Dibalik Pesona Indahmu duhai Merapi

10 November 2010 bertepatan dengan hari pahlawan waktuku habis dijalanan. Rute jalan hari ini tadi adalah Jogja-Klaten dan Klaten-Jogja. Sepanjang perjalanan mataku tak bisa menghindar untuk memandangi ke arah Gunung Merapi. Dari daerah Kusumanegara sudah nampak kepulan asap dari puncak merapi. Begitu sampai di atas Jembatan Janti, wuih indahnya pesona gunung merapi begitu memukau, kebetulan tadi situasinya cerah jadi dengan jelas aku pandangi gunung merapi sambil berkendara diatas jembatan janti Jogja. Ingin rasanya aku berhenti untuk memfoto tapi jika berhenti diatas jembatan aku takut menggangu pengendara lain. Di puncak Gunung Merapi nampak awan hitam keluar membumbung tinggi yang agak condong kearah barat. Nampak garis yang berkelok-kelok berwarna abu-abu dari puncak hingga dasar lembah, mungkin itu adalah bekas aliran awan panas atau lahar. Bagiku penampakan Merapi yang aku lihat tadi sungguh indah. Namun apa daya Dibalik Pesona Indahmu Duhai Merapi, banyak insan meratapi kedukaannya. Banyak nyawa melayang, banyak rumah hancur, banyak ternak binasah, banyak pepohonan mati, banyak orang yang harus menikmati hari-harinya dipengungsian dan masih banyak duka lainya yang tak bisa terkata. Kapankah kau akan mengakiri keagresifanmu wahai merapi?

Rasanya begitu beruntung aku bisa memandangi Gunung Merapi di sepanjang perjalananku menuju Klaten, suasananya cerah meski terasa amat panas menyengat. Rasa panasnya sudah tergantikan dengan indahnya pemandangan Gunung Merapi. Aku sengaja berkendara dengan pelan-pelan sembai aku lirak-lirik kekiri untuk memandangi Gunung merapi. Bukan hanya aku aja yang tengak-tengok sembari berkendara, pengendara lainpun juga turut memandangi Merapi, jadi keindahan merapi tadi bukan hanya aku aja yang merasakan. Gunung Merapi nampak semakin indah di tikungan jalan yang ada tembok pembatas jalannya sebelum SGM Klaten. Banyak sepeda motor dan mobil yang sengaja berhenti untuk sekedar memandangi ataupun mengambil gambarnya. Aku sendiri cuma sebatas memandangi aja, mau ambil gambar enggan rasanya karena aku harus segera ke bank Mandiri.

Saat masuk ke jalan tikus menuju jalan pemuda Klaten, aku liat Gunung Merapi membentang, ternyata Klaten dekat juga dengan Merapi. Setelah urusanku di bank Mandiri selesai aku pulang rumah sebentar, agak kaget juga karena SD dekat rumahku terendam banjir, mungkin karena sungai depan rumahku meluap dan jebolin tanggul lagi. Sudah 2 kali ini semenjak merapi meletus daerahku diterjang banjir.

Pukul 12 siang aku kembali bergegas menuju Jogja, aku berangkat siang karena takut kalo sore pasti hujan. Dalam perjalanan mataku tetap aja sambil tengak-tengok ke kanan memandangi merapi, sayangnya waktu perjalanan Klaten menuju Jogja Merapi agak tertutup kabut awan, hanya nampak bagian bawahnya yang dihiasi warna abu-abu dan atasnya nampak mengeluarkan awan pekat berwarna hitam kemerahan menuju ke arah barat.

Begitulah Gunung Merapi, begitu rumapawan dari kejauhan tapi begitu memprihatinkan dari dekat. Seindah-indahnya Gunung Merapi tetap tersimpan kepedihan yang mendalam. Layaknya sang rembulan, yang begitu indah dari bumi namun bila didekati bulan itu berlobang-lobang tak merata.

(agak-agaknya judul postinganku sedikit berlebihan, kalo anak gaul bilang alay-alay lebay bin rempong, tulisan ini hanya sekedar refresing aja, aku merasa penat dengan dedline yang membentang dihadapanku)

salam hormat dariku,
wong_anTeng

Comments

Baca Juga

PEMASARAN LANGSUNG (DIRECT MARKETING)

Tugas Account Executive/AE

Kissing Bugs di Indonesia Apakah Berbahaya?

Mata Uang Termahal Di Dunia

MACAM-MACAM PROMOSI PENJUALAN