Tumpeng Tutup dan Tumpeng Sewu

Masyarakat Indonesia kebanyakan masih mempercayai hal-hal mistik, sehingga tak heran bila masih banyak acara ritual-ritual dalam berbagai tujuan. Terkait dengan Gunung Merapi, Senin malam Ny Surakaryo sesepuh di Tegalreja Desa Gari Kecamatan Wonosari, membuat tumpeng tutup yang terbuat dari nasi putih dibentuk tumpeng kecil, diatasnya ada jadah ketan menutupi tumpeng kecil, sehingga tumpeng dari nasi tertutup jadah ketan. Diatas jadah itulah ditaruh dadar telur ayam kampung, kemudian baru ditutup dengan daun pisang Raja. Sementara di kanan-kiri tumpeng diletakkan pisang raja "setangkep". Menurut Ny Surokarya tumpeng diibaratkan Gunung Merapi. Kemudian jadah ketan, yang menjadi penutupnya diharapkan bisa lengket dan Gunung Merapi benar-benar tertutup.


Selain membuat tumpeng tutup, Ny Surokarya membagikan kupat luar, yang diisi beras merah, beras putih, ketan hitam, jewawut dan kacanghijau. Ditambah dengan batang pohon jarak dan Dadapsrep. Kupat luar disarankan untuk digantungkan dipojok rumah sebelah barat daya dan timur laut. "Kupat luar ini artinya, semuanya luwar dari bencana.

Dengan ritual ini diharapkan Gunung Merapi segera berhenti erupsi. Pasalnya letusan yang disertai muntahan material gunung dan awan panas itu sangat menakutkan dan sudah menimbulkan sedikitnya 141 korban jiwa dan ratusan orang lainnya mengalami luka.


Lain di Jogja lain di Banyuwangi, warga Desa Using Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur, baru-baru ini, menggelar ritual tumpeng sewu. Ritual diawali dengan mengarak kesenian barong. Setelah arak-arakan, warga mempersiapkan diri guna mengikuti prosesi inti ritual, yaitu selamatan tumpengan di pinggir jalan desa.

Nasi tumpeng beserta ayam bakar atau disebut pecel pitik juga disiapkan. Setiap satu keluarga menyiapkan dua hingga tiga tumpeng. Obor bambu juga harus dinyalakan untuk menerangi setiap tikar yang digelar di depan rumah warga. Usai doa bersama, warga menikmati nasi tumpeng.

Selamatan yang disebut dengan tumpeng sewu ini dilakukan setiap bulan Haji atau Zulhijah dalam penanggalan Jawa. Selamatan ini dimaksudkan untuk menghormati datangnya bulan yang digunakan para tamu Allah untuk menjalankan ibadah haji. Selain itu, selamatan tumpang sewu juga digelar sebagai ritual tolak bala agar terhindar dari mara bahaya serta ungkapan syukur kepada Tuhan yang maha kuasa atas berkah hidup selama ini.

Sebelum selamatan tumpeng sewu, pagi harinya warga juga menggelar tradisi jemur kasur secara massal. Tradisi ini dimaksudkan untuk membersihkan kasur setelah selama satu tahun dipakai, juga untuk menghormati datangnya bulan Haji atau Zulhijah, bulan yang dianggap baik untuk memulai bahtera rumah tangga bagi warga setempat. Ritual yang sudah menjadi tradisi turun temurun ini tetap dipertahankan warga hingga kini.

sumber: Kr Jogja dan Liputan 6
salam hormat dariku,

wong_anTeng

Tumpeng Tutup dan Tumpeng Sewu Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Mbak Widha

0 komentar:

Post a Comment

Silakan Berkomentar di Blognya Mbak Widha (BMW), Agar komentarnya rapi mohon usahakan komentar menggunakan NAMA anda, hindari pemakaian nama aneh-aneh entah judul postingan blog atau produk jualan misal "obat anu apa gitu"