20 February 2018

Pengalaman Daftar Monetisasi Youtube Langsung Disetujui Tanpa Nunggu 4000 Jam dan 1000 Subscriber

Kali ini aku akan sedikit ketak-ketik seputar Pengalaman Daftar Adsense Atau Monetisasi Youtube Langsung Disetujui Tanpa Nunggu 4000 Jam dan 1000 Subscriber. Sebenarnya aku sudah gak mainan youtube lagi setelah akun utamanya kena suspend pada Januari 2018 yang lalu.  Sayang sih tapi ya aku iklasin saja, gak usah dibaperin meski subscriber-nya kemarin udah hampir 29ribu.



Ah sudahlah... lupakan akun yang kena suspend itu, lagi pula aku ceritanya 2018 ini mau move on kembali belajar jualan online gitu loh. Tapi tanggal 17 Feb 2018 malam-malam iseng buka akun lawas yang aktif gabung youtube sejak Juli 2015. Namun akun itu nganggur dan gak ada videonya sama sekali, aku baru masukin video 3 minggu sebelumnya, itu pun sekedar nyepam.

Awalnya aku gak memperhatikan sama sekali menu monetise, karena aku pikir syarat monetise youtube sekarang berat banget yakni nunggu 4000 jam tayang dan minimal 1000 Sub. Tapi entah mengapa tiba-tiba aja aku klik menu monetise dan terpampang nyata syarat yang berat itu serta langkah-langkahnya.

Dengan pedenya aku ikuti langkah 1, 2 dan 3. Dan aku syok ketika muncul pemberitahuan "selamat channel anda telah disetujui untuk monetisasi". Aku pikir ini youtube-nya bercanda. Lalu aku lihat di pengaturan video dan beneran loh simbol monetise-nya bisa jadi hijau seperti ini:



Padahal loh distatistik terlihat masih jauh dari persyaratan yang berat itu, ini statistiknya:



Itu cuma ada 2 video durasi beberapa detik yang aku upload 3 minggu sebelumnya (yakni dibulan Januari 2018) dan itu ada 2 sub juga yang nge-sub akun-ku sendiri... haha... *nelongso banget deh...

Aku gak tau sih kenapa ini terjadi, kemungkinan karena ini akun lawas dan kebetulan masih tercatat diaturan lama. Hanya saja url costumnya gak bisa diganti, padahal diakun itu aku pakai url costum yang alay banget, boro-boro satu atau dua kata yang mudah diingat orang, itu aku pakai beberapa kata yang panjang gak jelas dan gak enak banget dibacanya.

Yah pokoknya akunnya itu secara url gak bisa dipakai untuk pencitraan atau branding gitu lah.  Tapi ya gak papa dhing, lumayan buat koleksi atau simpenan, siapa tau suatu saat akun-nya bisa dipakai, yang pasti untuk saat ini tetep mau kembali belajar jualan online dulu.

Dan bisa dibilang bisa ngaktifkan monetisasi youtube tanpa nunggu 4000 jam dan 1000 sub ini hanya kebejoan semata. Buat teman-teman yang barang kali punya akun youtube yang aktif sejak dulu atau akun lama sebelum adanya aturan baru, coba deh dicek barang kali ternyata monetise youtube-nya bisa diaktifkan.

Dan sayangnya aku hanya punya satu akun lawas itu saja, andai saja punya banyak bisa dibagi-bagi hahaha... *ngayal.... ini punya satu akun lama aja udah semacam kebejoan yang luar biasa gitu kan...



salam ketak-ketik,
dr pojokan

19 February 2018

Pengalaman Belanja Di Shopee Tapi Barang Tak Sesuai Deskribsi Lalu Mengajukan Pengembalian Uang

Ketak-ketik kali ini sekedar berbagi Pengalaman Belanja Di Shopee Tapi Barang Tak Sesuai Deskribsi Lalu Mengajukan Pengembalian Uang. Ini sebenarnya pengalaman lama yakni tahun 2017, udah didraf tapi baru sempat diposting sekarang. Ceritanya aku beli barang tapi ketika barang itu sampai ternyata jumlahnya gak sesuai dengan rincian produk. Dimana dalam penjelasan ditulis dalam satu paket ada 6 PCS tapi yang diterima hanya 1 PCS doang. Aku coba tanya ke toko yang jual dengan melampirkan foto gambar barang yang jumlahnya hanya satu.



Aku tanya yang intinya kalau beli itu dapat 6 atau 1 sih? si mimin gak jawab dan justru minta foto bukti resi penerimaan barang. (aku mikir kok pertanyaanku gak dijawab?)



Aku tanya lagi eh, si mimin muncul lagi dengan permintaan yang sama yakni minta foto bukti resi penerimaan barang. Dan pertanyaanku yang intinya kalo beli itu dapat 6 atau 1 tetep gak dijawab.



Lalu dikemudian hari muncul pemberitahuan dari shopee yang intinya penjual bilang barang sudah diterima jadi aku harus melepaskan uangnya. Tapi aku tetep gak klik lepas dana karena pertanyaanku gak dijawab, justru aku klik minta pengembalian dana.

Sekalian aku bilang ke pihak Shopee bahwa barang gak sesuai deskribsi dan penjual tidak menjawab pertanyaan. Pihak shopee bilang kalau penjual gak merespon selama 3 hari kedepan maka dana otomatis dikembalikan. Dan Akhirnya memang pengembalian dana disetujui.

Entah disetujuinya itu sukarela dari penjual atau karena otomatis tindakan dari shopee karena si penjual gak merespon, intinya pengembalian dana disetujui gitu aja.

Emang nilai dananya berapa sih? cuma 54rb-an... hahaha...

Yang bikin aku sebel disini bukan masalah nilai uangnya tapi kenapa si penjual gak menjawab pertanyaan-ku? ditanya apa malah jawabnya minta bukti penerimaan. Apa susahnya jawab dapat 6 atau dapat 1?

Wajarnya sih kalau pengembalian dana itu nunggu barang dikirim atau dibalikin ke penjual gitu kan? kemarin itu penjual sudah sama sekali gak merespon jadi duit 50rb balik, tapi barang yang hanya 1 pcs itu masih di aku. (*akhirnya ya barangnya gak aku balikin, lah penjualnya juga sudah gak peduli).

Padahal kalau misal penjual merespon atau menjawab pertanyaan atau menjelaskan yang sebenarnya aku bisa saja memaklumi. Karena aku kadang belanja online tapi barang yang diterima itu dalam keadaan gak beres tapi aku gak protes, tetep aku lepas dananya jadi si penjual bisa segera mengambilnya gitu. Ya baru kali ini aku protes sedemikian rupa sampai klik pengembalian dana karena jengkel.

Dan dana yang dikembalikan itu masuk ke menu dompet shopee, kalau dulu aku pernah dana dikembalikan tapi langsung masuk ke rekening gitu (pengalaman kala itu aku ketak-ketik di postingan Belanja Di Shopee: Sudah Transfer Order Dibatalkan, Gimana Nasib Uangnya?). 

Nah kalau sekarang kan dana yang dikembalikan itu masuknya ke dompet shopee gitu kan, dimana uang itu bisa ditarik ke rekening atau bisa digunakan untuk belanja lagi gitu, jadi gak otomatis masuk rekening seperti yang dulu pernah aku posting.

Ini sih sekedar pengalaman sederhana, diluar sana mungkin banyak yang pengalaman belanjanya lebih rumit atau lebih menjengkelkan dari ini.


salam ketak-ketik,
dr pojokan

18 February 2018

Pengalaman Pertama Naik Ojek, Malam Hari Sepi Menegangkan Hingga Duit Kurang!

Tema terakhir One Day One Post kali ini cerita pengalaman indah bersama tukang jasa apa gitu bebas, nah aku pilih bersama tukang ojek saja. Kala itu Sabtu 12 Juli 2014 aku ikut acara ngablogburit offline blogdetik di pabrik aqua Klaten, saat itu kan bertepatan dengan bulan puasa jadi tema acaranya itu bernuansa buka bersama dan hahahihi sampai agak malam gitu lah. Jujur saja waktu itu serasa gak menikmati acara karena aku kepikiran terus gimana entar pulangnya ke rumah karena tempat titipan sepeda motor tutup jam 8 malam.



Ceritanya kan rumahku ke jalan raya Jogja – Solo itu lumayan jauh, waktu itu aku dari rumah naik motor lalu dititipin dipenitipan sepeda motor dekat jalan raya, terus aku ikut rombongan naik bus ke pabrik Aqua di Tulung Klaten. Singkat cerita acara udah selesai, rombongan bus pulang bersama, aku turun dipinggir jalan raya dan astagah….. “aku salah turun”.

Seharusnya aku turunnya masih nanti jauh didepan tapi aku justru turun lebih awal karena ku pikir udah sampai ditempat titipan sepeda motor, mungkin saat itu aku benar-benar gak fokus tapi bukan karena kurang minum aqua loh ya tapi karena kepikiran tempat titipan sepeda motor yang takutnya udah tutup.

Rasanya deg-degan campur aduk gak karuan karena udah malam dan sendirian pula. Tapi aku pura-pura sok kenal daerah situ, padahal blas gak tau aku sedang menginjakan kaki di daerah mana. Aku disambut tukang ojek, ngobrol ini itu, terus deal dengan tarif sekian menuju tempat titipan sepeda motor. Dan badalah…. “udah tutup”!

Terus ya udah ngojek menuju rumah, jalan gelap, berlubang, melewati sawah-sawah yang sepi. Jangan tanya deg-degannya kayak apa! Pokoknya sepanjang jalan itu menegangkan, dan itu adalah pengalaman pertama kali aku naik ojek, sebelumnya sama sekali belum pernah.

Pak Tukang Ojek-nya cerita ini itu, intinya udah lama banget gak melewati jalan daerahku. Singkat cerita sampai daerah rumah tapi aku minta turun dipinggir jalan aja karena kasihan pak tukang ojeknya kalau harus nganter sampek depan rumah. Tanya kenapa? Rumahku nyempil pinggir kali, jalannya sempit dan kalau malam lebih gelap dari jalanan di persawahan.

Dengan pedenya aku ambil uang buat bayar, dan jreng-jreng…. “duitku kurang”! Padahal semua receh sudah dikeluarin tapi tetep kurang 2 ribu. Akhirnya pak tukang ojek pasrah menerima uang seadanya. Intinya aku lupa bawa dompet, karena aku seringnya kalau pergi cuma ngangotin SIM dan STNK doang.

Yah untungnya pak tukang ojeknya baik hati jadi uang kurang tetep diterima dengan ikhlas. Terimakasih yang sebesar-besarnya pada pak tukang ojek yang waktu itu (aku gak tau namanya) semoga rejekinya melimpah.

Yah itulah kenangan pertama kali naik ojek, walau menegangkan tapi tetep selamat sampai rumah dengan jasa tukang ojek yang baik hati. Dan lebih indahnya lagi kala itu dikemudian hari ada acara ngablogburit temanya “buka bersama paling seru” nah aku ikutan tuh, aku ceritakan keseruan dan ketegangan dibalik acara buka bersama ngablogburit offline itu, akhirnya aku menang, lumayan dapat hadiah 1jt. Tapi ya gitu deh blogdetik kini udah tutup diakhiri dengan indah!


salam ketak-ketik,
dr pojokan

17 February 2018

Kids Jaman Now Kurang Tontonan Yang Mendidik

Oke sambung lagi ketak-ketiknya, masih dalam rangka One Day One Post alias ODOP dimana tema sebelumnya seputar motto hidup dan aku sekedar posting Mantra Kehidupan Sederhana dan Gak Neko-neko baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam hal ngeblog. Tema selanjutnya adalah penting enggaknya film perjuangan diputar untuk anak-anak jaman sekarang.



Jujur saja aku sendiri jarang nonton film tapi kalau disuruh ngasih opini menurutku, ini menurutku loh ya! film perjuangan itu penting untuk anak-anak sekarang atau dalam bahasa kekiniannya kids jaman now. Kenapa penting? Ya untuk mengingatkan bahwa dulu itu perjuangan para pejuang itu gak gampang, penuh pertumpahan darah dan sekitarnya.

Tapi masalahnya kalau film perjuangan dengan pertumpahan darah kan pasti pro kontra kalau disajikan untuk anak-anak. Mungkin ada yang bilang gak mendidik karena menunjukan adegan kekerasan, pemb*nuh*an atau hal-hal lain yang dianggap sadis.

Lagian kalau jaman sekarang ini jika film dikemas dengan nuansa perjuangan bakalan terkesan jadul, karena dengan kata perjuangan itu kesan pertamanya adalah ‘jaman dulu’. Dan lihat aja tuh film-film yang ngehit yang penontonnya meledak sekarang ini gak ada yang film perjuangan. Kalau ngitip datanya yang laris itu film macam Warkop DKI Reborn, Dilan, Laskar Pelangi (ini sih lumayan buat anak-anak), Pengabdi Setan, Ada Apa Dengan Cinta dll. Tapi ini bukan contoh film anak-anak dhing, di Indonesia contoh film anak-anak yang ngehit gitu apa sih? Petualangan Sherina? jaman kapan itu? Logikanya film yang bukan untuk anak-anak aja jarang yang bertema perjuangan gitu loh.

Mungkin misal kalau mau bikin film perjuangan perlu dikemas agar lebih kekinian, atau mungkin bikin film alay aja sekalian tapi disisipin nilai-nilai perjuangan atau pesan moral. Karena kids jaman now memang cinderung suka nuansa alay, jadi misal sekarang ini kan ada tuh anak-anak pada makan micin divideoin terus diposting di internet, nah mungkin bisa bikin film tandingan yang isinya disisipin pesan tentang makanan sehat buat anak-anak, terus dikasih contoh misalnya tokoh A pintar bukan karena makan micin tapi karena makan makanan sehat dan rajin belajar. Atau misal tokoh B terkenal bukan karena video alay-nya yang makan micin tapi karena prestasinya yang hebat.

Tapi ya apa mau dikata, orang jaman sekarang kebanyakan memang seleranya yang gitu-gitu, lihat tuh sinetron ceritanya tentang anak motor, genk, berantem, berandalan, rebutan pacar, saling bully dan sekitarnya justru ratingnya bagus. Dan jangan salah loh ya, penontonya itu banyak yang anak-anak. Mungkin ada orang tua yang sadar tentang efek negatif sinetron macam itu tapi banyak juga orang tua yang gak nyadar bahkan kalau nonton sinetron barengan sama anak-anaknya.

Ya mungkin kalau lihat kelakuan anak-anak jaman sekarang yang aneh-aneh gitu salah satu penyebabnya (sekali lagi ini hanya salah satu faktor yang mungkin menyebabkan) adalah banyaknya tontonan yang gak mendidik alias kurang tontonan dengan nuansa perjuangan, pesan moral atau hal-hal lain yang bisa memberi masukan positif.

Berharapnya sih ada yang mau menciptakan totonan positif untuk anak-anak gitu loh, gak yang cinta-cintaan mulu, beranteman, bully-bullyan dan semacamnya. Tapi ya itu tadi, apa mau dikata… selera kebanyakan orang sekarang memang gitu-gitu.


salam ketak-ketik,
dr pojokan

16 February 2018

Mantra Kehidupan Sederhana dan Gak Neko-neko, Meski Dipandang Aneh Tapi 'Ra Popo'!

Ketak-ketik kali ini masih dalam rangka One Day One Post alias ODOP dimana sebelumnya temanya tentang sisi maskulin dan feminim namun dari pada enggak posting maka aku ngasal saja cerita tentang Merasa Lebih Maskulin Ketimbang Feminim Widha Ingin Jadi Widho?. Lalu tema pada postingan kali ini adalah seputar mantra kehidupan atau quotes atau motto hidup.



Lagi-lagi dari pada enggak posting ya udah ketak-ketik curhat ngasal aja. Jadi meski dulu suka nonton talk show Mario Teguh Golden Ways tapi hidupku sehari-hari ya enggak yang penuh quotes bijak ala-ala MT gitu. Aku sih bisa dibilang serba biasa-biasa aja, bahkan mungkin biasa banget karena memang mantra dasarnya adalah sederhana dan gak neko-neko.

Sederhana dan gak neko-neko ini bisa jadi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bisa juga dalam hal ngeblog.

Sederhana dan Gak Neko-neko Dalam Kehidupan Sehari-hari

Kalau berdasarkan pengamatan ngasalku sih, hidup paling tenang itu adalah hidup yang tanpa utang. Lihat orang sekitar yang kebanyakan gaya tapi terlilit utang itu rasanya gimana gitu. Tapi ya ada sih yang banyak hutang tapi nampak tetep santai kayak dipantai sambil makan sate.

Kalau ngamatin orang lain sih tentu pola hidupnya beda-beda, karena pasti setiap orang punya prinsip masing-masing.

Kalau aku intinya lebih suka jadi diri sendiri aja, gak suka ikut-ikutan gaya ini itu, jatuhnya sih kayak orang aneh tapi aku rapopo meski dianggap aneh.

Misal kalau di desa itu yang dipandang lebih keren kerja kantoran atau PNS gitu deh, tapi aku? Dirumah aja sampek disangka pengangguran gak mau kerja. Terus soal kendaraan ya minimal orang pada beli motor baru (meski kreditan), tapi aku? Cuma beli sepeda ontel.

Sederhana dan Gak Neko-neko Dalam Hal Ngeblog

Dulu blogdetik-ku yang kini udah gak bisa diakses itu judulnya adalah Ketak-ketik Ide Sederhana, dan memang postingannya hanya dari ide-ide sederhana misal denger mbah kosnya nonton infotaiment bisa jadi postingan, sepedaan dijalan dicengirin kuda bisa dijadiin postingan, lihat anak kecil jualan koran dilampu merah bisa dijadikan postingan, baca berita yang lagi heboh bisa ketak-ketik opini jadi postingan dan lain sebagainya.

Intinya ide sederhana buat posting di blog itu bisa diperoleh dari apa yang didengar, dilihat, dirasakan dan sekitarnya.

Dan dengan modal ide sederhana seperti itu blogdetik-ku dulu bisa rutin update setiap hari, bahkan sehari bisa lebih dari satu postingan. Kalau blog ini judulnya Ketak-ketik dari pojokan, karena memang aku ngeblognya dari pojokan.

Blog ini lebih sederhana dari blog ketak-ketik diblogdetik yang dulu, saking sederhananya jarang posting *hehe…, ini tiap hari posting gegara ikut ODOP (bukan karena dibayar loh ya, ini tantangan buat diri sendiri aja untuk ikut mencoba posting tiap hari selama 14 hari, syukur-syukur seterusnya ketagihan gitu). Dan ini ikutan ODOP pun kalau posting juga gak neko-neko karena pasti hanya sekitaran pengalaman pribadi aja. Sebenarnya blog ini kalau niat posting tiap hari juga bisa tapi kan aku masih harus lebih rajin posting diblog yang untuk jualan gitu (*eaa….alasan dhing… haha…).

Udah gitu aja, pokoknya sederhana dan gak neko-neko


salam ketak-ketik,
dr pojokan

15 February 2018

Merasa Lebih Maskulin Ketimbang Feminim, Widha Ingin Jadi Widho?

Baiklah tema ODOP kali ini tentang sisi maskulin dan sisi feminim, sungguh ini temanya makin kesini makin ada-ada saja setelah kemarin tentang daerah perbatasan padahal aku gak pernah kemana-mana akhirnya cuma cerita berteman dengan orang luar daerah yang kuliah di Jogja tapi gak sampai lulus. Dan untuk kali ini lagi-lagi dari pada bingung mau cerita apaan mending aku ketak-ketik sebuah sejarah masa lampau saja lah.

Pada jaman dahulu……



Aku terlahir dengan teman disekitar yang semuanya anak laki-laki, gak hanya yang sebaya, yang lebih tua atau yang lebih muda juga laki semua. Alhasil aku mainnya sama anak-anak laki gitu kan, mainannya ketapel, tembakan, kelereng, sepakbola, mobil-mobilan dan lain sebagainya.

Bahkan waktu aku TK gak mau pakai seragam cewek, pokoknya gak mau pakai rok, maunya pakai celana. Alhasil aku jadi tontonan anak-anak SD yang ada disebelah TK. Sekali lagi tontonan loh ya bukan tuntunan *haha (meski ini peristiwa lama tapi aku masih ingat betul….).

Anak-anak SD itu seolah pada gak fokus, kalo jam istirahat atau jam kosong pada nemplok dicendela, ngapain coba? Nonton aku lah… Dimata mereka aku yang gak mau pakai seragam cewek ini adalah fenomena langka. Tapi aku ya yang biasa aja, sampai aku lulus TK aku tetep gak pakai rok!

Terus waktu SD gimana? Waktu SD pakai rok kok, tapi masalahnya kalau teman-teman main aku hanya bisa nonton doang, gak mau ikutan main. Tanya kenapa? Lah iya lah mereka mainannya lompatan tali, kerikil yang dilempar-lempar itu dan lain-lainnya yang aku gak bisa semua. Meski diajarin tetep aja gak bisa, karena biasanya main ketapel, kelereng, tembak-tebakan, petasan dan sekitarnya.

Itulah gambaran singkat dimana aku dari kecil serasa lebih maskulin karena memang pergaulannya dengan anak laki-laki. Dan dulu meski sekolah udah pakai rok ada tuh yang manggil Widho, aku ingat tuh yang sering manggil Widho guru kimia. Waktu kuliah ada juga yang manggil Widho, padahal udah pakai rok karena memang aturannya senin-kamis wajib pakai rok, kalau jumat baru boleh pakai celana.

Tapi ya yang manggil Widho itu hanya bercandaan, masak iya Widha jadi Widho? Kalau Widha jadi Widho pasti nama panjangnya Widho Roma, *eaaaaa…. Haha…

Ah.. aneh-aneh aja, aku Widha ya Widha aja gak ingin jadi Widho gitu loh meski ada bawaan maskulin. Lalu sekarang apakah udah feminim? Kalau feminim disini diartikan dalam hal dandan yang kemenor-menoran gitu maka itu ya gak aku banget. Aku pakai handbody aja bisa pusing loh, mencium aroma bau pewangi pakaian yang direndam-rendam itu juga pernah sampek mau pingsan. Gak tau deh emang aneh banget.


salam ketak-ketik,
dr pojokan

14 February 2018

Berteman Dengan Orang Luar Daerah Yang Kuliah Di Jogja (Tapi Gak Sampai Lulus)

Tema ODOP kali ini tentang daerah perbatasan, padahal sumpeh deh aku gak punya pengalaman pergi jauh-jauh. Kalau di Jogja aja sering kali bergantung pada google map, itu pun sering kesasar. Ya gitulah aku gak ada bakat jadi traveller karena gampang mabok. Kalau piknik cuma ke semak-semak moto capung, laba-laba dan sekitarnya. Tapi kalau ngomongin soal luar daerah, aku pernah berteman dengan orang luar daerah (orang NTT dan Papua).



Ceritanya dulu aku pernah kerja sambilan jadi penjaga warnet waktu di Jogja, disitulah aku berteman dengan mereka. Yang orang NTT sebut saja namanya AG itu sering ngobrolin daerahnya yang kalau rusuh dua orang bisa rusuh satu kampung, jadi misal ada masalah pribadi antara dua orang saja bisa jadi masalah satu kampung, bakar-bakaran rumah gitu katanya biasa aja. Kalau yang orang papua suka cerita daerahnya pedalaman kalo balik kampung susah.

Kesamaan mereka adalah sama-sama kuliah di Jogja tapi gak ada yang sampek lulus. Si AG katanya mau balik kampung tapi males jadi milih di Jogja dengan kerja srabutan. Nah kalo orang papua itu pamit pergi ke Jakarta nyusul abangnya dan yang satu orang NTT akhirnya balik kampung.

Nah dari ketiganya yang paling aku ingat kisahnya adalah yang orang NTT tapi balik kampung (kalo gak salah nama derahnya Kalabahi), dia dulu sempat curhat kuliah ke Jogja itu ibaratnya ketipu. Ceritanya dia dapat undangan dari salah satu kampus di Jogja, dia membayangkan yang wah-wah gitu tapi gak taunya waktu sampai di Jogja ternyata kampusnya hanya kecil, 2 lantai, yah pokoknya gak sesuai yang dia bayangkan.

Aku sendiri tau bahwa memang kampusnya kecil, ya gitu deh tempatnya aja ngontrak. Tapi memang di Jogja banyak kampus kan, biasanya strategi kampus-kampus itu adalah menyebar amplop-amplop undangan yang isinya “selamat kamu diterima di kampus bla…bla…bla…”.

Dia, sebut saja namanya AD! Benar-benar sangat kecewa. Dan si AD itu dulu sering lihat aku mainan blog. Dia tanya seputar ngeblog, ya aku jelasin ini itu, intinya aku komporin agar nanti si AD kalo balik kampung bisa menulis seputar daerahnya baik itu kelebihan daerahnya tau hal-hal yang masih kurang didaerahnya. Waktu itu sih dia antusias banget, dia juga bilang pengin buka usaha sendiri jualan sesuatu yang ada di Jogja tapi gak ada di daerahnya sana.

Tapi setelah dia pulang kampung gak ada kabar, sempat kirim pesan nyapa “mba Widha gimana kabarnya, gimana ngeblognya”. Ya aku jawab aja “baik dan masih aktif ngeblog, lalu aku tanya balik kamu gimana jadi ngeblognya?”. Dia jawab “gak jadi, susah sinyal, online jarang-jarang”. Ya udah deh kalo urusannya dengan susah sinyal emang gimana gitu.

Ada satu hal yang membuat aku prihatin dari kasus teman-teman dari luar daerah itu, soal apa? Terkait susah sinyal? BUKAN! Terkait mereka yang datang ke Jogja tapi kuliahnya juga gak sampai lulus. Sepertinya terjadi kesalah pahaman gitu loh, mungkin disana minim informasi, coba kalau dari awal tau informasi ini itu tentu gak akan gagal paham. Yah seperti si AD yang kecewa dan merasa ketipu itu tadi. Memang sih soal kuliah pada gak lulus itu bisa jadi juga karena faktor susah menyesuaikan diri.

Sebenarnya gak hanya 3 orang itu aja contoh kasusnya, banyak hal aneh-aneh yang aku jumpai di warnet karena memang pengunjungnya banyakan orang Indonesia bagian timur. Pernah tuh ada orang Papua datang ke warnet katanya mau nyari tugas, dia udah masuk ke bilik lama banget tapi aku lihat dibiling-nya kok gak nyala-nyala. Ternyata memang dia belum nyalain, dia bilang gak tau caranya nyalain komputer.

Yah mungkin memang inilah kenyataanya, bahwa teknologi memang belum merata. Dan aku gak bisa apa-apa, hanya bisa berharap semoga teknologi bisa merata, minimal semua bisa mengenal yang namanya internet, sehingga bisa mencari informasi dengan mudah.




salam ketak-ketik,
dr pojokan

13 February 2018

Menerima dan Menghargai Diri Sendiri Agar Tidak Menjadi Pribadi Yang Pengeluh

Ketak-ketik kali ini mungkin gak jauh beda dengan postingan sebelumnya tentang Berdamai Dengan Diri Sendiri. Kalau yang sebelumnya kaitannya dengan amarah pada orang lain kalau yang ini kaitannya dengan diri sendiri agar tidak menjadi pengeluh. Pada dasarnya setiap orang punya bakat mengeluh, mungkin merasa dirinya gak sempurna, penuh kekurangan, gak bisa apa-apa, gak punya kelebihan dan sekitarnya.



Kalau gak bisa mengendalikan diri bisa jadi marah pada diri sendiri, menyalahkan diri sendiri dan bahkan mungkin benci pada diri sendiri lalu mengeluh ini itu dengan ngenesnya yang intinya ya itu tadi merasa dirinya penuh kekurangan nan tidak seperti orang lain yang dipandang jauh lebih sempurna.

Apalagi kalau orangnya tipe introvert macam aku, dikeluarga sendiri saja dipandang aneh. Dulu sih waktu masih belum bisa berdamai dengan diri sendiri seringnya merasa ngenes, seolah sendirian gak ada yang pengertian, jengkel, diam-diam marah kenapa dapat jatah karakter introvert kayak gini sih? Kenapa gak kayak orang pada umumnya aja? dan pikiran-pikiran negatif lainnya selalu menghantui. Kalau sekarang? Sekarang udah gak gitu lagi, memang masih dipandang aneh hanya saja aku santai menanggapinya.

Dan justru rasanya beruntung karena bawaan introvert dengan kebiasaan diam, mengdengarkan, mengamati dan sekitarnya itu bisa banyak belajar memetik mana yang baik untuk ditiru dan mana yang gak perlu ditiru. Misalnya lihat teman yang di sosmed statusnya isinya mengeluh mulu, diam-diam aku hanya menyimak dan seolah membisikan pada diri sendiri jangan sampai ikut-ikutan mengeluh sedemikian rupa. Misalnya lagi, merasa gak enak diginiin ya jangan sampai giniin oranglain gitu.

Kalau misal berkaitan dengan ngeblog, kadang aku menyebut diriku sebagai “newbie terus dan gak pernah naik pangkat” itu dalam artian sekedar ungkapan hahahihi yang tidak bermaksud merendahkan diri sendiri tapi lebih ke sugesti bahwa aku harus tetep selalu belajar ini itu karena memang masih harus banyak belajar gitu loh.

Aku yakin sih bahwa setiap orang memang sudah dikaruniai dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing, jadi gak perlu lagi merasa paling ngenes sejagat. Ya pokoknya jangan sampai hanya fokus meratapi kekurangan diri sendiri dan ngiri pada kelebihan orang lain. Cari tau dan fokus saja pada kelebihan diri sendiri, selebihnya syukuri apa yang kita punya.

Intinya adalah dengan menerima atau bersyukur nantinya akan lebih mudah menghargai diri sendiri. Dan kalau berfikiran positif maka apapun yang terjadi akan bisa memetik hikmah yang positif pula. Udah gitu aja…


salam hormat,
dr pojokan

12 February 2018

Blogger Jaman Now Nolak Tawaran Campaign? Yang Ada Malah Pada Rebutan, Iya Kan?

Sekarang ini makin banyak yang melek teknologi dan bahkan memanfaatkannya untuk mencari penghasilan. Memang ada banyak cara menghasilkan uang dari aktivitas online, namun disini aku bahas berkaitan dengan para blogger saja ya. Dimana saat ini memang banyak yang berpenghasilan dari blog-nya atau IG-nya atau twitter-nya. Yang blogger pasti paham maksudnya nih, ya kan???



Kalau ngomongin penghasilan mungkin penghasilkan mereka ada yang melebihi UMK, ya kan??? Kalo gak percaya tanya aja mereka yang sering dapat job. Tapi aku sarankan jangan sampai tanya jumlah penghasilan ke orang lain, karena itu urusan dapur banget, lagian ngapain juga kita ngepoin jumlah penghasilan orang lain, ya kan???

Berdasarkan pengamatan ngasal versi ketak-ketik, Blogger kalau ada job review atau semacamnya pasti rebutan, ya kan?? Kalau gak dapat pasti ada yang ngedumel atau bahkan pengen protes “ih kenapa yang dapat job orang itu-itu mulu sih?”. *sekali lagi ini hanya berdasarkan pengamatan ngasal versi ketak-ketik loh ya, kalau salah ya udah coret saja…*hehe…

Sementara aku sendiri kalau lihat ada yang bagi-bagi job lebih baik langsung MENOLAK dari pada ikut rebutan!!! *ih sombong ya…. Padahal aslinya memang hanya bisa nyimak, tanya kenapa? Ya karena aku merasa blog-ku gak masuk kreteria yang dicari oleh para brand itu. Lagi pula kadang selain blog juga dibutuhkan akun sosmed seperti IG dan twitter gitu kan? Lah akun sosmed-ku juga gak masuk kreteria dimana biasanya yang dicari yang followernya ribuan.

Ya aku sendiri sadar diri lah bahwa blog-ku memang gini-gini doang, visitornya juga segini-gini aja, disosmed juga gak terkenal alias miskin follower. Jadi kalau ngarepin dapat job review atau semacamnya sih mustahil. Kecuali kalau memang ada brand yang mau menerima apa adanya tapi ya itu tadi MUSTAHIL!

Kalau pun aku menerima tawaran campaign seenggaknya aku harus punya pengalaman memakai produk itu biar postingannya juga natural gitu loh alias gak ngayal doang. Kalau acara liputan ya pasti harus datang langsung atau kalau enggak nonton tayangan acara live-nya gitu.

Tapi sejauh ini sih belum menerima, karena ya itu tadi aku rasa blog-ku gak memenuhi kreteria. Dulu banget aku juga sudah pernah posting dengan judul Ngaku Bloger Tapi Jarang Ikut Event, Tanya Kenapa? dipostingan itu aku curhat ini itu yang ngasal aja tapi itu jujur dari ubun-ubun yang terdalam.

Tapi pernah sih ikut acara liputan, yakni acaranya duta damai BNPT di Tebing Breksi Jogja tapi itu modelnya lomba jadi gak ada kreteria khusus makanya aku ikutan. Liputan acara awal sampai akhir aku posting di blogdetik tapi sekarang blogdetik udah tutup jadi postingan udah gak bisa diakses. Salah satu bagian dari acara itu ada yang aku posting di blog ini yakni tentang Jemparingan, apa itu? Simak aja dipostingan Panahan Khas Ala Jemparingan Manunggal Rasa Tamtama Mejing Wetan Desa Ambarketawang Gamping Sleman.

Dan kalau misal (sekali lagi ini misal loh ya….), tiba-tiba ada yang nawarin campaign produk kosmetik untuk corat-coret alis misalnya. Si brand ini mau menerima blog-ku apa adanya, yang penting aku nulis aja terus aku selfie pakai produk itu. Kira-kira aku terima gak? Maka jawabnya TIDAK alias aku tolak! Kenapa ditolak? Ya karena aku gak pernah corat-coret alis dengan kata lain aku gak hobi dandan. Jadi kalau temanya tentang kosmestik atau kecantikan tentunya aku menolak, kecuali kalau misal produknya itu dipakai Syahrini, aku meliput tentang produk itu dan bagaimana Syahirni memakainya, apakah hasilnya cetar membahenol atau gimana gitu tinggal diceritakan dalam postingan blog.

Terus gimana cara menolak tawaran campaign yang produknya dirasa gak dijiwai seperti itu? Ya pasti nolaknya baik-baiklah. Misal bilang terimakasih sudah menawarkan, tapi maaf tidak bisa karena gak pernah memakai produknya (ya kurang lebih seperti itu nolaknya).

Yah gitu deh, intinya kalau campaign yang dimaksud adalah tentang produk tertentu ya kalau disuruh nulis seengaknya aku harus punya pengalaman memakai produk itu atau pernah melihat orang lain memakai produk itu gitu. Kalau tema campaign-nya diluar produk maka salah satu tema yang aku tolak adalah yang berhubungan dengan politik.

Postingan ini hanya pandangan pribadi saja loh ya karena aku tahu bahwa pada umumnya orang justru nyari atau pengen banget dapat campaign gitu kan bukan yang menolak.


salam ketak-ketik,
dr pojokan