Ustad Bertarif? Jangan dipakai!

gambar search di google
Belakangan ini media sempat heboh memberitakan seputar Ustad bertarif, dimana semua bermula dari batalnya ceramah ustad solmed di Hongkong. Solmed membatalkan karena merasa ceramahnya di Hongkong itu dibisniskan, karena penyelenggara memungut biaya kepada jamaah yang ingin mengikuti dakwahnya. Sementara itu pihak EO yang mengundang pak Solmed di Hongkong itu merasa difitnah, menurutnya bahwa pihak pak Solmed lah yang merugikan karena ada perubahan kata dan permintaan. Konon pak Solmed minta bagian penjualan tiket itu, selain itu juga mengubah tarif dakwahnya dan yang tadinya minta 2 tiket pesawat nambah minta 4 tiket.

Dari situlah masing-masing pihak saling membela diri, jatuhnya kayak ribut gitu, terus ya jadinya heboh juga karena isu pasang tarifnya jadi pembicaraan dimana-mana. Ada yang menyatakan bahwa ustad pasang tarif itu HARAM, tapi ada juga yang berpendapat bahwa itu boleh-boleh saja asal tidak berlebihan. Pas kapan itu nonton liputan TVone dimana nara sumbernya ustad dari Malasia, dimana beliau tidak pernah pasang tarif karena pesan gurunya adalah jangan sampai menjual ilmu. Lalu dari mana ia dapat uang untuk kebutuhan hidupnya? ia berdagang madu, buku, parfum yang ia bawa dan dijual saat ngisi-ngisi ceramah.

Terus pas siang-siang hari Sabtu *24 Agustus 2013, nonton tv gak sengaja liat tayangan ulang entah acara apa itu di tvone yang jelas nara sumbernya ada Solmed, dari MUI, dari majalah C&R. Gak nonton full sih, tapi kalau dari MUI sendiri sepertinya menolak ustad bertarif. Yang menarik adalah ketika ibu nara sumber dari C&R itu menyampaikan bahwa Ustad Solmed itu adalah ustad yang satu sisi dicintai tapi satu sisi juga ada yang membenci, dan dia juga salah satu ustad yang sering muncul dimedia Infotaiment mau umroh diliput, mau ini itu apa diliput. Terus disaranin agar gak gampangan menerima liputan media, kalaupun diterima harusnya tetep yang disampaikan itu berupa dakwah entah bagaimana cara mengemasnya gitu. Terus pak Solmed kayak gimana gitu bilang oke kedepannya bakal mau lagi diliput, tutup pintu buat semua media, tapi gak tau itu omongannya serius atau bercanda.

Emang bener sih kata ibu dari C&R itu kalau pak Solmed itu sering banget muncul dimedia, terlebih media infotaiment, yang mana kesan yang ada itu seolah pamer kemesraan, harta atau pamer-pamer yang lain gitu. Jadi ya mungkin bener juga masukan ibu itu, agar tidak gampangan diliput, jangan bangga diliput karena merasa semakin diliput semakin terkenal gitu. Dan bener juga kata bapak dari MUI itu bahwa seorang ustad itu tidak cukup dengan halal atau haram saja tapi juga akhlaq, kalau pasang tarif itu ya kurang berakhaq gitu.

Sebenarnya kalau sedemikian kasusnya maka gampangnya sih gini aja: kalau anda bosen lihat ustad solmed atau siapapun yang sering muncul di infomatiment ya udah matiin tv atau kalau enggak pindah chanel. Terus kalau soal isu pasang tarif, ya udah jangan pakai ustad yang pasang tarif, cari yang lainnya aja, karena dakwah itu sebenarnya yang diutamakan adalah ilmunya bukan masalah kepopulerannya. Tapi ya gimana ya, kecenderungan masyarakat kita emang lebih tertarik pada orang-orang yang sudah terkenal, misal pengajian yang diisi ustad seleb gitu meksi acaranya bayar pasti lebih diminati ketimbang yang diisi haji RW kampung sebelah meski acaranya gratis dapat goodyback-makan-hingga snack.

Dari rumitnya postingan yang kemana-mana ini intinya sih, cuma mau bilang: Ustad Bertarif? Jangan dipakai! Udah gitu aja!

salam hormat dariku,

widha utawi idha

Related Posts

Ustad Bertarif? Jangan dipakai!
4/ 5
Oleh

Silakan Berkomentar di Blognya Mbak Widha (BMW), Agar komentarnya rapi mohon usahakan komentar menggunakan NAMA anda, hindari pemakaian nama aneh-aneh entah judul postingan blog atau produk jualan misal "obat anu apa gitu"