2/08/2018

Inilah Pelajaran Sekolah Yang Paling Berguna Ketika Sudah Bekerja

Ada yang bilang sekolah itu gak penting, tapi sebagian besar orang pasti lebih setuju bahwa sekolah itu sangat penting. Meski sekolah itu sendiri tidak menjamin kesuksesan seseorang dimasa depan, karena banyak juga yang lulus sarjana tapi bingung nyari kerja bahkan justru jadi pengangguran. Disisi lain yang gak sekolah tinggi atau gak lulus sekolah justru jadi pengusaha sukses.



Ngomongin soal sekolah menurutku, ini menurutku loh ya! Buat yang belum terlambat sebaiknya sekolah mengambil jurusan sesuai bakat atau passion. Jika belum tau bakat atau passion-nya apa segera cari tau agar nantinya bisa memilih sekolah yang tepat sesuai apa yang disukai dan diminati. Ada kok itu tes untuk mengetahui karakter bawaan seperti stifin atau sejenisnya.

Aku adalah contoh yang tidak baik karena sekolah hanya ngasal yang penting sekolah gitu, ambil jurusan juga cuma ngasal. Aku baru memahami seputar karakter bawaan, bakat, minat dan sekitarnya setelah tidak sekolah. Sekali lagi ‘setelah tidak sekolah’ (dibaca ketika sudah tua…haha).

Kalau sekolahnya aja ngasal terus dulu waktu ngikutin pelajaran sekolah gimana? Ya sekedar datang, duduk, diam, pulang. Aku tuh modalnya cuma anteng doang, nyatet juga kadang ogah-ogahan, karena tulisan tanganku jelek, aku sendiri malas baca tulisanku (*haha).

Kalau pelajaran sekolah yang gak aku suka, yang rumit-rumit penuh rumus seperti matemetika, kimia, fisika itu aku dulu mikirnya “halah rumit gitu emang entar kalo kerja kepakai?”. *pikirannya udah ogah-ogahan gitu jadi dulu masuk kelas IPS deh.

Kalau ujian modalnya hafalan semalam, tapi aku gak pernah nyontek karena malas, nyontek itu ribet, bikin catatan kecil-kecil, dilinting dilipet, diselipin kemana gitu, yah pokoknya menurutku itu semua ribet. Belum lagi tulisanku kan jelek, nah kalo bikin contekan aku bisa jadi malah puyeng sendiri karena gak bakat bikin catatan yang rapi seperti para pecontek sejati itu. Mending ngapalin lah dari pada nyontek.

Tapi sengasal-ngasalnya waktu sekolah ada pelajaran yang secara tidak sengaja aku sukai yakni pelajaran pemasaran karena aku dulu prodi marketing. Dalam pelajaran pemasaran itu ada materi promosi, periklanan, branding dan lain-lainnya. Bahkan beberapa teori seputar marketing, promosi dan periklanan ada yang aku posting di blog ini loh. Emang ada yang baca postingan seputar teori penjualan, promosi, periklanan dll-nya itu? Kalau dilihat dari statistik lumayan kok yang buka postingan itu, ya mungkin itu anak-anak sekolah yang lagi pada cari bahan pelajaran di sekolahnya.

Lalu apakah pelajaran yang aku suka itu berkaitan dengan dunia kerja sekarang? Ya gitu deh, meski masih banyak hal yang harus dipelajari sendiri karena dulu gak didapat waktu sekolah. Eh betewe emangnya aku ini kerja apaan? Embuhlah ya, aku sendiri bingung dan kalo di desa memang udah biasa dibilang pengangguran karena kelihatannya cuma duduk diam dipojokan.

Misal sebut saja aku sekarang jualan online, seenggaknya pelajaran seputar marketing itu bermanfaat meski dulu belum ada materi marketing online. Dulu gak diajarin bikin blog untuk jualan atau jualan lewat sosmed, sehingga harus belajar sendiri.

Padahal dulu waktu masih sekolah dan ambil prodi marketing itu juga cuma ngasal, bahkan seolah gak ada harapan yang baik, bayangannya entar mau jadi apa? Jadi sales yang kemana-mana bawa barang dagangan ketuk pintu ke pintu gitu? Mengingat aku ini pendiam yang gak pandai bicara empuk layaknya sales sejati. Yah pokoknya bayangannya waktu itu benar-benar surem tapi ya tetep sekolah dengan modal datang, duduk, diam, pulang sampek lulus.

Dan setelah lulus beneran bingung mau kerja apaan? Lamar kerja sana-sini gak betahan. Tapi untung mengenal internet jadi bisa belajar jualan online, jadi hikmahnya adalah jualan itu gak harus door to door, gak harus pandai bicara empuk asal bisa bikin artikel renyah gitu. *eaaa…

Yah itulah cerita seputar pelajaran sekolah yang bagiku paling berguna atau berkaitan dengan dunia kerja yang saat ini dijalani bahkan saking melekatnya sampai ada beberapa teori yang aku posting di blog ini. Ini sekedar pengalaman pribadi ya, dimana tentu berbeda dengan pengalaman orang lain. Yang pasti bagiku meski sekolahnya cinderung ngasal tapi dari sekolah itu bisa belajar banyak hal, sekolah itu juga bisa membentuk pola pikir dan lain sebagainya.

Dan sekali lagi buat yang belum terlambat atau buat para emak baiknya arahkan sekolah anak sesuai bidang yang benar-benar disukai atau diminati agar ilmu yang didapat juga benar-benar sesuai dan terarah. Kalau anak belum tau minatnya coba dibantu diarahkan gitu.



salam ketak-ketik,
dr pojokan

2/07/2018

Roda Kehidupan Selalu Berputar Itu Hanya Omong Kosong?

Kehidupan diibaratkan sebuah roda yang selalu berputar dimana ada saatnya diatas ada pula saatnya dibawah, tapi apakah semua itu benar adanya? Jangan-jangan hanya omong kosong? Pernah gak sih lihat tetangga atau kehidupan orang lain yang kelihatannya selalu enak-enakan, atau lihat orang lain yang kelihatan susah melulu. Kalau melihatnya dengan cara seperti itu pasti berfikir roda kehidupan gak pernah berputar.



Atau mungkin lihat sosmed teman lama sebut saja namanya si Anu yang kini selalu posting makanan enak, tidur di hotel, piknik kemana-mana. Lalu berfikir wah si Anu sekarang sukses, udah gak kayak dulu lagi. Ini berarti roda kehidupan memang benar-benar berputar.

Seperti itukah cara menganalisa roda kehidupan yang konon selalu berputar? Tentu saja bukan!!! Kalau yang dijadikan tolok ukur itu adalah kehidupan orang lain tentu kurang tepat, karena kita gak pernah tau apa yang terjadi sebenarnya dalam kehidupan orang lain, yang kelihatan enak-enakan belum tentu sepenuhnya enak atau sebaliknya. Misal si Anu itu tadi yang kelihatan selalu bahagia makan enak, ya siapa tau itu lagi ditraktir atau dapat voucer (*yang blogger pasti paham kayak gini inih… hahaha…).

Kembali ke diri sendiri aja, dimana kita pernah mengalami senang karena mungkin mendapatkan atau meraih apa yang kita inginkan tapi kita juga pernah kecewa karena sebuah kegagalan yang tak sesuai dengan harapan. Nah, disaat kita pernah merasa senang dan kecewa itu adalah salah satu tanda bahwa memang roda kehidupan itu berputar dan ini bukanlah omong kosong karena aku sendiri pun mengalami.

Misalnya aku pernah punya sesuatu yang menyenangkan, suatu ketika aku berfikir gimana kalau yang aku punya ini hilang atau pergi? dan akhirnya hal itu beneran terjadi. Gimana perasaanya saat kehilangan itu??? galau tapi biasa biasa saja! seolah sebelumnya sudah siap andai hal itu harus hilang ya sudah gitu loh.

Intinya sebelum kehilangan itu sudah biasa menyugesti diri sendiri bahwa semua yang didapat atau yang dipunyai itu hanya titipan, dimana semua itu bisa saja tiba-tiba hilang atau pergi. Ibaratnya ada pertemuan ada perpisahan, ada senang ada susah, ada hidup ada mati, semua bagaikan roda yang terus berputar dan kita gak akan pernah tau apa yang terjadi di kemudian hari maka dari itu harus senantiasa berlatih menerima segala kemungkinan yang akan terjadi.

Jadi misal kita punya sesuatu yang rasanya amat sangat berharga pasti akan merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu pun harus dikontrol agar gak berlebihan sehingga suatu saat kalo-kalo sesuatu itu pergi atau hilang gak kaget, dan kalaupun merasa kecewa juga gak sampek berlebihan, seenggaknya kecewa bentar lalu normal lagi gitu.




Agar seimbang menghadapi segala kemungkinan yang terjadi dalam roda kehidupan ini kuncinya memang seolah sederhana tapi gampang-gampang susah yakni ikhlas dan bersyukur.

Jika kita bisa lebih peka dengan yang namanya roda kehidupan, apapun yang terjadi entah itu menyenangkan atau menyedihkan itu semua adalah yang terbaik dariNya untuk kita. Coba renungkan dengan pikiran positif maka kita akan bisa merasakan bahwa pasti ada hikmah yang baik dibalik semua hal yang terjadi.

Dan iya…. hindari kebanyakan melihat kehidupan orang lain yang menjadikan kita ngiri dengan kehidupan orang lain atau gak mensyukuri dengan yang kita punya dan sekitarnya, kecuali kita melihat kehidupan orang lain dan menjadikannya untuk lebih bersyukur dan termotivasi ke arah yang positif.

Udah gitu aja…


salam ketak-ketik,
dr pojokan


2/06/2018

Alasan Enggan Ikut Acara Reuni, Karena Pengaruh Opini Negatif?

Saat ini adalah zaman yang serba kontroversi termasuk soal reuni, ada yang suka-suka aja dengan acara reuni tapi ada yang was-was karena alasan nganu gitu. Dan di sosmed ada kan itu opini-opini nganu seputar reuni yang viral. Nah kalau aku kebetulan termasuk orang yang enggan reuni, yang aku maksud disini reuni akbar sekolahan gitu loh ya! Kalau ketemuan sama teman-teman lama yang benar-benar kenal itu ya yuk yak yuk saja.

Kenapa enggan ikut acara yang reuni akbar sekolahan? Apakah karena minder karena lihat temannya yang sukses? Atau takut ditawarin bisnis MLM?



Kalau aku sih alasannya sederhana yakni ramai (makelum aku gak tahan dengan keramaian), selain ramai juga gak semua orang kenal gitu kan. Kalau misal diacaranya ada teman yang dikenal dan berangkat ya pasti ikutan berangkat. Tapi sejauh ini jujur saja aku belum pernah ikut acara reuni akbar sekolahan. Kalau misal ada undangan gitu pasti aku tanya teman dulu, pada berangkat gak? Ternyata enggak, ya udah aku juga enggak. Yang paling sering ngadain acara reuni akbar sih mantan kampus, di Semarang tapi ya gitu gak pernah ikutan. Selain jauh dari rumah juga biasanya teman juga gak pada datang, jadi ya ikutan gak dateng.

Ya gitu deh, rata-rata bagi kebanyakan orang renuni itu menyenangkan, ajang jalinan silahturami, menjaga persahabatan dan lain sebagainya.

Aku memang cindrung pendiam aslinya tapi jaman-jaman sekolah ya tetep bergaul bahkan sama anak-anak yang ramai. Kalau niatan reuni biasanya aku main ke rumah teman langsung aja gitu, misal pertengahan tahun 2017 main ke Semarang mengunjungi rumah beberapa teman.

Kadang juga masih suka ngunjungi tempat teman SMA, hahahihi ngobrolin teman SMA yang dulu pada badung, tukang bolos, mabukan, dll sekarang pada jadi TNI, polisi, PNS! Disitulah kami tertawa heran gimana gitu.

Intinya kalau reuni sama teman sekolah itu biasanya ngobrolin masa lalu dan membandingkan dengan masa sekarang, dimana semua sudah berubah. Ada yang dulu dekat tapi sekarang seolah dah gak mau kenal lagi, ada yang dulu gak begitu akrab tapi sekarang justru akrab. Memang semua sudah berubah, punya kesibukan masing-masing tapi yang penting kalau masih ingin menjalin silahturahmi paling enggak tetep saling sapa, minimal lewat facebook dan sekitarnya.

Nah itu seputar teman sekolah, kalau teman kantor? Pernah reuni? Sayangnya aku dari dulu gak pernah kerja kantoran, pernah sih nyoba tapi bentar-bentar keluar. (*gak bakat kerja kantoran….).

Kalau teman blogger? Jujur saja aku jarang ikut acara kopdar, pernah sih ke Jakarta ikut acara kopdar pamitan blogdetik. Bisa dibilang ajang reuni juga, ketemu sama bloger-bloger yang sebelumnya pernah ketemu seperti mb Melly, mb Ani Berta, Intan Berembun, Cak Wigi, Tayuzani, mb Sri (nama bekennya Nchie Hanie), Didik Jatmiko, kayaknya itu sih nama-nama yang sebelumnya sudah pernah ketemu karena sebagian besar baru pertama kali ketemu.



Dan diacara kopdar penutupan blogdetik itu dari sekian yang sebelumnya pernah ketemu ada yang pas ketemu aku tapi semacam lupa. Siapa dia? Mb Ani Berta!

Aku: (berdiri….sambil senyum) 
Mb Ani: Nyamperin sambil bilang *%&%Q^Q* (maksudnya aku gak tau mb Ani nyebut nama siapa… yang pasti bukan namaku) 
Aku: aku widha mb…. 
Mb Ani: Ooooo….. widha…ya… ih gak berubah ya… masih begini aja…. bla-bla-bla….  
Aku: (dalam hati emange aku power ranger yang bisa berubah…, jujur aku penasaran mb Ani nyebut nama siapa, ngira aku ini siapa? Tapi aku gak berani nanya….*tapi berani nulis disini)

Ah embulah… jujur dari awal ngetik postingan ini aku gak tau arah postingan ini kemana, karena aku gak punya pengalaman yang mak jleb gitu seputar reuni. Jadi ini ketak-ketiknya berasa ngasal aja, yang penting posting!

Tapi sedikit kesimpulan yang bisa ketak-ketik sampaikan adalah:

Ketika orang enggan datang ke acara reuni akbar itu bisa jadi bukan karena pengaruh opini-opini negatif seputar reuni atau minder melihat kesuksesan yang lainnya atau takut CLBK atau teringat dengan kenangan masa lalu tapi lebih karena punya cara sendiri untuk reuni, misalnya ketemuan hanya dengan teman intim atau berkunjung ke rumah langsung. 

Kalau cara reuni yang sedemikian rupa dibilang gak gaul atau gak punya banyak teman ya ra popo, udah gitu aja!



salam ketak-ketik,
dr pojokan

2/05/2018

Emosi dan Kebencian Bisa Jadi Penyakit, Berdamai Dengan Diri Sendiri Adalah Solusinya!

Emosi dan Kebencian Bisa Jadi Penyakit, Berdamai Dengan Diri Sendiri Adalah Solusinya! || Ketak-ketik dulu ah, kali ini posting berbagi pengalaman seputar amarah dan kebencian! Tema yang cinderung horor tapi hampir semua orang pernah ngalamin marah bahkan sampek benci pada seseorang entah itu keluarga sendiri (bapak, ibu, kakak, adik, suami/istri, anak), tetangga, teman dan sekitarnya. Aku pun mengalami hal itu, terlebih bawaan karakter introvert yang sukanya kalo emosi atau jengkel dipendem sampek ke ubun-ubun.



Dan berdasarkan apa yang aku rasakan yang namanya marah (emosi) dan benci (jengkel) adalah paket kumplit yang sangat merugikan terutama bagi kesehatan. Dulu aku sering ada masalah pencernaan, gampang batuk, sakit leher dan sekitarnya.

Hingga suatu ketika gak sengaja baca sebuah artikel terkait hubungan penyakit dengan emosi atau kejengkelan yang dipendam. Dari situ mulai belajar bagaimana berdamai dengan diri sendiri dengan cara lebih banyak intropeksi diri, menerima diri sendiri dan orang lain.

Semenjak berdamai dengan diri sendiri dengan berusaha mengelola emosi, lambat laun sakit-sakit yang dulu sering dirasakan lama-lama gak terasa lagi. Batuk? udah lama gak menderita ini padahal dulu langganan. Perut kembung, gampang diare atau masalah percernaan lainnya sekarang juga enggak. Selain itu juga dulu juga sering sakit leher tapi serkang enggak.

Soal pengalaman jengkel/benci yang dipendam dan jadi penyakit ini bukan hanya aku aja loh yang merasakan, mas-ku jauh lebih parah. Masku pernah cerita soal kebencian yang dia pendam yang ternyata berhubungan dengan penyakit yang dia derita.

Memang serba salah, emosi itu dipendem jadi penyakit, kalaupun diluapin menggebu-gebu juga gak baik. Misal jengkel pada anak terus ngomel-ngomel ini itu dengan lantang, mungkin emaknya puas bisa meledakan emosi, lah nasib anaknya gimana? Kalau anaknya sama-sama gak bisa terima maka bisa jadi anaknya juga ikut emosi atau kalo enggak ya diam-diam memendam emosi (jadilah penyakit untuk anaknya). Ibarat bisnis ala MLM ketika kita meluapkan kemarahan kepada orang itu sama halnya sedang merekrut downline, alhasil bisa jadi marahan berjamaah otomatis hubungan jadi gak baik, Iya kan????

Kalau misal orang lain itu jengkelin ya mungkin barangkali memang dia karakternya begitu, atau mungkin diri kita sendirilah yang sebenarnya terlalu baper dan mudah marah/benci. Intinya adalah memahami karakter orang lain dan intropeksi diri.

Yah pokoknya hati-hati ajalah kalo punya kebiasaan marah atau jengkel pada orang lain, kalo gak bisa mengendalikan bisa jadi memperburuk hubungan antar sesama, bonusnya bisa jadi penyakit ini itu untuk diri sendiri terutama jika jengkelnya itu dipendam sampai sedalam-dalamnya lautan *halah…. :)

Jadi menurut analisa ngasal versi ketak-ketik ketika marah atau jengkel pada seseorang yang terpenting adalah berdamai dengan diri sendiri terlebih dulu, keluarkan segala jurus sabar dan ikhlasnya. Soal urusan berdamai dengan seseorang yang jengkelin itu nomor 2 aja, karena percuma juga berdamai atau salaman dengan orang itu, terus soalah hahahihi bersama, sok baik-baik saja tapi dalam hati atau dibelakang orang itu kitanya masih yang “ih sebel…. Ih kesel…. dan ih ih ih yang lainnya”.

Memang berdamai dengan diri sendiri ini bukan perkara yang mudah, gak yang langsung “mak cringggg….. tiba-tiba rilex” tapi ini tuh butuh proses, mungkin pakai acara baper dulu, atau nangis-nangis, atau ngedumel tipis-tipis, lalu pelan-pelan baru deh bisa menerima keadaan dan berdamai dengan diri sendiri. Udah gitu aja, ini sekedar pengalaman pribadi aja karena barang kali berbeda dengan pengalaman orang lain.



salam ketak-ketik,
dr pojokan

Lapak Aneka Souvenir Promosi Widhadong

 









Konveksi Kaos Widhadong