2/18/2018

Pengalaman Pertama Naik Ojek, Malam Hari Sepi Menegangkan Hingga Duit Kurang!

Tema terakhir One Day One Post kali ini cerita pengalaman indah bersama tukang jasa apa gitu bebas, nah aku pilih bersama tukang ojek saja. Kala itu Sabtu 12 Juli 2014 aku ikut acara ngablogburit offline blogdetik di pabrik aqua Klaten, saat itu kan bertepatan dengan bulan puasa jadi tema acaranya itu bernuansa buka bersama dan hahahihi sampai agak malam gitu lah. Jujur saja waktu itu serasa gak menikmati acara karena aku kepikiran terus gimana entar pulangnya ke rumah karena tempat titipan sepeda motor tutup jam 8 malam.



Ceritanya kan rumahku ke jalan raya Jogja – Solo itu lumayan jauh, waktu itu aku dari rumah naik motor lalu dititipin dipenitipan sepeda motor dekat jalan raya, terus aku ikut rombongan naik bus ke pabrik Aqua di Tulung Klaten. Singkat cerita acara udah selesai, rombongan bus pulang bersama, aku turun dipinggir jalan raya dan astagah….. “aku salah turun”.

Seharusnya aku turunnya masih nanti jauh didepan tapi aku justru turun lebih awal karena ku pikir udah sampai ditempat titipan sepeda motor, mungkin saat itu aku benar-benar gak fokus tapi bukan karena kurang minum aqua loh ya tapi karena kepikiran tempat titipan sepeda motor yang takutnya udah tutup.

Rasanya deg-degan campur aduk gak karuan karena udah malam dan sendirian pula. Tapi aku pura-pura sok kenal daerah situ, padahal blas gak tau aku sedang menginjakan kaki di daerah mana. Aku disambut tukang ojek, ngobrol ini itu, terus deal dengan tarif sekian menuju tempat titipan sepeda motor. Dan badalah…. “udah tutup”!

Terus ya udah ngojek menuju rumah, jalan gelap, berlubang, melewati sawah-sawah yang sepi. Jangan tanya deg-degannya kayak apa! Pokoknya sepanjang jalan itu menegangkan, dan itu adalah pengalaman pertama kali aku naik ojek, sebelumnya sama sekali belum pernah.

Pak Tukang Ojek-nya cerita ini itu, intinya udah lama banget gak melewati jalan daerahku. Singkat cerita sampai daerah rumah tapi aku minta turun dipinggir jalan aja karena kasihan pak tukang ojeknya kalau harus nganter sampek depan rumah. Tanya kenapa? Rumahku nyempil pinggir kali, jalannya sempit dan kalau malam lebih gelap dari jalanan di persawahan.

Dengan pedenya aku ambil uang buat bayar, dan jreng-jreng…. “duitku kurang”! Padahal semua receh sudah dikeluarin tapi tetep kurang 2 ribu. Akhirnya pak tukang ojek pasrah menerima uang seadanya. Intinya aku lupa bawa dompet, karena aku seringnya kalau pergi cuma ngangotin SIM dan STNK doang.

Yah untungnya pak tukang ojeknya baik hati jadi uang kurang tetep diterima dengan ikhlas. Terimakasih yang sebesar-besarnya pada pak tukang ojek yang waktu itu (aku gak tau namanya) semoga rejekinya melimpah.

Yah itulah kenangan pertama kali naik ojek, walau menegangkan tapi tetep selamat sampai rumah dengan jasa tukang ojek yang baik hati. Dan lebih indahnya lagi kala itu dikemudian hari ada acara ngablogburit temanya “buka bersama paling seru” nah aku ikutan tuh, aku ceritakan keseruan dan ketegangan dibalik acara buka bersama ngablogburit offline itu, akhirnya aku menang, lumayan dapat hadiah 1jt. Tapi ya gitu deh blogdetik kini udah tutup diakhiri dengan indah!


salam ketak-ketik,
dr pojokan

2/17/2018

Kids Jaman Now Kurang Tontonan Yang Mendidik

Oke sambung lagi ketak-ketiknya, masih dalam rangka One Day One Post alias ODOP dimana tema sebelumnya seputar motto hidup dan aku sekedar posting Mantra Kehidupan Sederhana dan Gak Neko-neko baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam hal ngeblog. Tema selanjutnya adalah penting enggaknya film perjuangan diputar untuk anak-anak jaman sekarang.



Jujur saja aku sendiri jarang nonton film tapi kalau disuruh ngasih opini menurutku, ini menurutku loh ya! film perjuangan itu penting untuk anak-anak sekarang atau dalam bahasa kekiniannya kids jaman now. Kenapa penting? Ya untuk mengingatkan bahwa dulu itu perjuangan para pejuang itu gak gampang, penuh pertumpahan darah dan sekitarnya.

Tapi masalahnya kalau film perjuangan dengan pertumpahan darah kan pasti pro kontra kalau disajikan untuk anak-anak. Mungkin ada yang bilang gak mendidik karena menunjukan adegan kekerasan, pemb*nuh*an atau hal-hal lain yang dianggap sadis.

Lagian kalau jaman sekarang ini jika film dikemas dengan nuansa perjuangan bakalan terkesan jadul, karena dengan kata perjuangan itu kesan pertamanya adalah ‘jaman dulu’. Dan lihat aja tuh film-film yang ngehit yang penontonnya meledak sekarang ini gak ada yang film perjuangan. Kalau ngitip datanya yang laris itu film macam Warkop DKI Reborn, Dilan, Laskar Pelangi (ini sih lumayan buat anak-anak), Pengabdi Setan, Ada Apa Dengan Cinta dll. Tapi ini bukan contoh film anak-anak dhing, di Indonesia contoh film anak-anak yang ngehit gitu apa sih? Petualangan Sherina? jaman kapan itu? Logikanya film yang bukan untuk anak-anak aja jarang yang bertema perjuangan gitu loh.

Mungkin misal kalau mau bikin film perjuangan perlu dikemas agar lebih kekinian, atau mungkin bikin film alay aja sekalian tapi disisipin nilai-nilai perjuangan atau pesan moral. Karena kids jaman now memang cinderung suka nuansa alay, jadi misal sekarang ini kan ada tuh anak-anak pada makan micin divideoin terus diposting di internet, nah mungkin bisa bikin film tandingan yang isinya disisipin pesan tentang makanan sehat buat anak-anak, terus dikasih contoh misalnya tokoh A pintar bukan karena makan micin tapi karena makan makanan sehat dan rajin belajar. Atau misal tokoh B terkenal bukan karena video alay-nya yang makan micin tapi karena prestasinya yang hebat.

Tapi ya apa mau dikata, orang jaman sekarang kebanyakan memang seleranya yang gitu-gitu, lihat tuh sinetron ceritanya tentang anak motor, genk, berantem, berandalan, rebutan pacar, saling bully dan sekitarnya justru ratingnya bagus. Dan jangan salah loh ya, penontonya itu banyak yang anak-anak. Mungkin ada orang tua yang sadar tentang efek negatif sinetron macam itu tapi banyak juga orang tua yang gak nyadar bahkan kalau nonton sinetron barengan sama anak-anaknya.

Ya mungkin kalau lihat kelakuan anak-anak jaman sekarang yang aneh-aneh gitu salah satu penyebabnya (sekali lagi ini hanya salah satu faktor yang mungkin menyebabkan) adalah banyaknya tontonan yang gak mendidik alias kurang tontonan dengan nuansa perjuangan, pesan moral atau hal-hal lain yang bisa memberi masukan positif.

Berharapnya sih ada yang mau menciptakan totonan positif untuk anak-anak gitu loh, gak yang cinta-cintaan mulu, beranteman, bully-bullyan dan semacamnya. Tapi ya itu tadi, apa mau dikata… selera kebanyakan orang sekarang memang gitu-gitu.


salam ketak-ketik,
dr pojokan

2/16/2018

Mantra Kehidupan Sederhana dan Gak Neko-neko, Meski Dipandang Aneh Tapi 'Ra Popo'!

Ketak-ketik kali ini masih dalam rangka One Day One Post alias ODOP dimana sebelumnya temanya tentang sisi maskulin dan feminim namun dari pada enggak posting maka aku ngasal saja cerita tentang Merasa Lebih Maskulin Ketimbang Feminim Widha Ingin Jadi Widho?. Lalu tema pada postingan kali ini adalah seputar mantra kehidupan atau quotes atau motto hidup.



Lagi-lagi dari pada enggak posting ya udah ketak-ketik curhat ngasal aja. Jadi meski dulu suka nonton talk show Mario Teguh Golden Ways tapi hidupku sehari-hari ya enggak yang penuh quotes bijak ala-ala MT gitu. Aku sih bisa dibilang serba biasa-biasa aja, bahkan mungkin biasa banget karena memang mantra dasarnya adalah sederhana dan gak neko-neko.

Sederhana dan gak neko-neko ini bisa jadi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bisa juga dalam hal ngeblog.

Sederhana dan Gak Neko-neko Dalam Kehidupan Sehari-hari

Kalau berdasarkan pengamatan ngasalku sih, hidup paling tenang itu adalah hidup yang tanpa utang. Lihat orang sekitar yang kebanyakan gaya tapi terlilit utang itu rasanya gimana gitu. Tapi ya ada sih yang banyak hutang tapi nampak tetep santai kayak dipantai sambil makan sate.

Kalau ngamatin orang lain sih tentu pola hidupnya beda-beda, karena pasti setiap orang punya prinsip masing-masing.

Kalau aku intinya lebih suka jadi diri sendiri aja, gak suka ikut-ikutan gaya ini itu, jatuhnya sih kayak orang aneh tapi aku rapopo meski dianggap aneh.

Misal kalau di desa itu yang dipandang lebih keren kerja kantoran atau PNS gitu deh, tapi aku? Dirumah aja sampek disangka pengangguran gak mau kerja. Terus soal kendaraan ya minimal orang pada beli motor baru (meski kreditan), tapi aku? Cuma beli sepeda ontel.

Sederhana dan Gak Neko-neko Dalam Hal Ngeblog

Dulu blogdetik-ku yang kini udah gak bisa diakses itu judulnya adalah Ketak-ketik Ide Sederhana, dan memang postingannya hanya dari ide-ide sederhana misal denger mbah kosnya nonton infotaiment bisa jadi postingan, sepedaan dijalan dicengirin kuda bisa dijadiin postingan, lihat anak kecil jualan koran dilampu merah bisa dijadikan postingan, baca berita yang lagi heboh bisa ketak-ketik opini jadi postingan dan lain sebagainya.

Intinya ide sederhana buat posting di blog itu bisa diperoleh dari apa yang didengar, dilihat, dirasakan dan sekitarnya.

Dan dengan modal ide sederhana seperti itu blogdetik-ku dulu bisa rutin update setiap hari, bahkan sehari bisa lebih dari satu postingan. Kalau blog ini judulnya Ketak-ketik dari pojokan, karena memang aku ngeblognya dari pojokan.

Blog ini lebih sederhana dari blog ketak-ketik diblogdetik yang dulu, saking sederhananya jarang posting *hehe…, ini tiap hari posting gegara ikut ODOP (bukan karena dibayar loh ya, ini tantangan buat diri sendiri aja untuk ikut mencoba posting tiap hari selama 14 hari, syukur-syukur seterusnya ketagihan gitu). Dan ini ikutan ODOP pun kalau posting juga gak neko-neko karena pasti hanya sekitaran pengalaman pribadi aja. Sebenarnya blog ini kalau niat posting tiap hari juga bisa tapi kan aku masih harus lebih rajin posting diblog yang untuk jualan gitu (*eaa….alasan dhing… haha…).

Udah gitu aja, pokoknya sederhana dan gak neko-neko


salam ketak-ketik,
dr pojokan

2/15/2018

Merasa Lebih Maskulin Ketimbang Feminim, Widha Ingin Jadi Widho?

Baiklah tema ODOP kali ini tentang sisi maskulin dan sisi feminim, sungguh ini temanya makin kesini makin ada-ada saja setelah kemarin tentang daerah perbatasan padahal aku gak pernah kemana-mana akhirnya cuma cerita berteman dengan orang luar daerah yang kuliah di Jogja tapi gak sampai lulus. Dan untuk kali ini lagi-lagi dari pada bingung mau cerita apaan mending aku ketak-ketik sebuah sejarah masa lampau saja lah.

Pada jaman dahulu……



Aku terlahir dengan teman disekitar yang semuanya anak laki-laki, gak hanya yang sebaya, yang lebih tua atau yang lebih muda juga laki semua. Alhasil aku mainnya sama anak-anak laki gitu kan, mainannya ketapel, tembakan, kelereng, sepakbola, mobil-mobilan dan lain sebagainya.

Bahkan waktu aku TK gak mau pakai seragam cewek, pokoknya gak mau pakai rok, maunya pakai celana. Alhasil aku jadi tontonan anak-anak SD yang ada disebelah TK. Sekali lagi tontonan loh ya bukan tuntunan *haha (meski ini peristiwa lama tapi aku masih ingat betul….).

Anak-anak SD itu seolah pada gak fokus, kalo jam istirahat atau jam kosong pada nemplok dicendela, ngapain coba? Nonton aku lah… Dimata mereka aku yang gak mau pakai seragam cewek ini adalah fenomena langka. Tapi aku ya yang biasa aja, sampai aku lulus TK aku tetep gak pakai rok!

Terus waktu SD gimana? Waktu SD pakai rok kok, tapi masalahnya kalau teman-teman main aku hanya bisa nonton doang, gak mau ikutan main. Tanya kenapa? Lah iya lah mereka mainannya lompatan tali, kerikil yang dilempar-lempar itu dan lain-lainnya yang aku gak bisa semua. Meski diajarin tetep aja gak bisa, karena biasanya main ketapel, kelereng, tembak-tebakan, petasan dan sekitarnya.

Itulah gambaran singkat dimana aku dari kecil serasa lebih maskulin karena memang pergaulannya dengan anak laki-laki. Dan dulu meski sekolah udah pakai rok ada tuh yang manggil Widho, aku ingat tuh yang sering manggil Widho guru kimia. Waktu kuliah ada juga yang manggil Widho, padahal udah pakai rok karena memang aturannya senin-kamis wajib pakai rok, kalau jumat baru boleh pakai celana.

Tapi ya yang manggil Widho itu hanya bercandaan, masak iya Widha jadi Widho? Kalau Widha jadi Widho pasti nama panjangnya Widho Roma, *eaaaaa…. Haha…

Ah.. aneh-aneh aja, aku Widha ya Widha aja gak ingin jadi Widho gitu loh meski ada bawaan maskulin. Lalu sekarang apakah udah feminim? Kalau feminim disini diartikan dalam hal dandan yang kemenor-menoran gitu maka itu ya gak aku banget. Aku pakai handbody aja bisa pusing loh, mencium aroma bau pewangi pakaian yang direndam-rendam itu juga pernah sampek mau pingsan. Gak tau deh emang aneh banget.


salam ketak-ketik,
dr pojokan

Lapak Aneka Souvenir Promosi Widhadong

 









Konveksi Kaos Widhadong